Three Important Things in Procurement

Procurement

Procurement

 

Someone ask me during the interview session. What is three important things in Procurement, for you?

Saya sudah pernah memikirkan tentang hal ini, dan dengan mudah saya jawab: Proper, Faster, Better.

Proper. Proper berarti Tepat, Layak, Pantas, Wajar, Patut. Procurement adalah pekerjaan menjaga proses pengadaan. Kata kuncinya ada di Proses. kenapa Proses? karena jika procurement ditekankan pada negosiasi, pengadaan dan pembelian, maka hampir semua stakeholders/user di perusahaan bisa melakukannya bukan?. Pada beberapa departemen di perusahaan, mereka diperbolehkan melakukan pengadaan sendiri “by them self”, sehingga menurut mereka sebenarnya tidak perlu ada Procurement, kami bisa melakukan negosiasi, kami tahu spesifikasi detail, dan kami mengerti apa yang kami perlukan. Nah, diperlukannya Procurement adalah untuk mengelola proses tersebut agar berjalan Tepat, Patut dan Wajar, atau yang saya simpulkan dengan satu kata Proper.

 

Read more of this post

Advertisements

STMI, D4 dan Mencari Pekerjaan.

Barusan ada follower (@derryanwar) di twitter yang bertanya:
kalau Lulusan STMI prospeknya utk cari kerja gmna? trus lulusan D4 lanjutnya kemana?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas,ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan berikut:
1. Apa tujuan kita kuliah? paksaan ortu,pilihan pribadi,ikut2an atau apa?
-dulu sih saya masuk STMI krn pilihan pribadi memutuskan utk harus kuliah,dan STMI adalah pilihan kedua setelah gagal di SMPB,waktu itu ambil di UNBRAW dan UNLAM-
Read more of this post

SISTEM ‘KANBAN’

Contoh Peta Kanban

Contoh Peta Kanban

Istilah Kamban menggambarkan kayu atau logam menghiasi tanda sering mewakili sebuah merek dagang atau segel. Kamban menjadi bagian penting dari adegan perdagangan Jepang pada abad ke-17, sangat mirip dengan militer telah panji-panji kepada para samurai. Visual permainan kata-kata, kaligrafi dan cerdik bentuk yang bekerja untuk menunjukkan perdagangan dan kelas bisnis atau pedagang

Pada akhir 1940-an, Toyota mulai mempelajari supermarket dengan tujuan untuk menerapkan dan menyimpan stoking rak-teknik untuk lantai pabrik, memperkirakan, di supermarket, pelanggan mendapatkan apa yang mereka butuhkan, pada waktu yang diperlukan, dan dalam jumlah yang diperlukan. Selain itu, hanya supermarket saham-saham apa yang percaya itu akan menjual, dan pelanggan hanya mengambil apa yang mereka butuhkan karena pasokan masa depan terjamin. Ini menyebabkan Toyota untuk melihat proses sebagai pelanggan dari proses sebelumnya, dan proses-proses sebelumnya sebagai semacam toko. Proses pelanggan ini pergi ke toko untuk membeli komponen yang diperlukan, dan toko restocks. Seperti di supermarket, awalnya, papan yang digunakan untuk memandu “pembeli” Restocking spesifik lokasi.

“Kanban” menggunakan tingkat permintaan untuk mengontrol tingkat produksi, melewati permintaan dari pelanggan akhir melalui rantai proses pelanggan toko. Pada 1953, Toyota logika ini diterapkan dalam mesin pabrik utama mereka berbelanja

Read more of this post